PENJUAL SAYUR DI PASAR BECEK, MASUK DALAM 100 ORANG TERKAYA DI DUNIA
________
Catatan Manis: ASE
________
Kemaren aku membuat catatan pahit tentang seorang anak usia 10 tahun di Ngada NTT, yang bunuh diri gegara tidak diberi uang 10 ribu oleh ibunya utk membeli peralatan sekolah, akibat keniskinan.
Pagi ini sambil sarapan nasi kuning simpang 3 antasari, aku membuat catatan manis bukan karena aku pesan teh tarik manis, tapi ada tayangan di medsos yang FYP ttg seorang wanita biasa yang menjadi luar biasa.,
Yuk ikutin ceritanya om, Tante, mbak, mas, lupakan sejenak hiruk pikuk IHSG, yang membuat 5 pejabat nya mundur, lupakan sejenak, persidangan ijazah palsu atau asli, Lupakan sejenak Indonesia gabung dalam misi BOP made in Amrik, "Sang Rambo" yang mau menyerbu Iran, biarin ajah..! mo liat juga dimana keberaniannya.
Kalian mending baca catatan ku ini sampai habis, setidaknya siapa tau juga anda masuk dalam catatan majalah Forbes atau Time, ngarep.. 😀
Pernahkah om dan tante ngebayangin, seseorang yang kukunya hitam karena tanah, bajunya lusuh terkena cipratan air pasar yang becek, dan setiap hari berkutat dengan tumpukan sawi serta kangkung, tiba-tiba bersanding dengan para raksasa teknologi dan pemilik bank di daftar orang terkaya dunia ?
Mungkin terdengar seperti dongeng, tapi inilah kisah nyata Chen Shu-chuSeorang wanita paruh baya asal Taiwan yang sehari-harinya hanya menggelar dagangan di lapak sederhana bukan di mall mewah, bukan pula di pasar modern ber-AC. Ia berjualan di pasar tradisional yang riuh, sempit, dan basah.
Namun, namanya meledak ketika majalah Forbes memasukkannya ke dalam daftar pahlawan filantropi, dan majalah TIME menobatkannya sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia.
Lha Kok bisa ? Apa yang ia sembunyikan di balik apron kumuhnya itu ? Hidupnya "Pelit" untuk Dirinya Sendiri broo, Chen Shu-chu bukan pewaris takhta, bukan pula spekulan saham. Ia adalah pejuang hidup yang bekerja 18 jam sehari. Bayangkan, saat kita masih terlelap, ia sudah bergulat dengan sayur-mayur. Saat kita bersantai di depan televisi, ia masih melayani pembeli.
Rumahnya ? Sangat sederhana, bahkan jauh dari kata layak. Makanannya ? Ia dikenal sangat "pelit" pada dirinya sendiri. Tahu dan tempe adalah kemewahan rutinnya. Tak ada baju bermerk, tak ada perhiasan melingkar di leher. Ia hidup seolah-olah ia adalah orang termiskin di lingkungannya.
Namun, di sinilah letak "keajaiban" itu dimulai.
Keajaiban dari Receh demi Receh Selama 50 tahun, Chen mengumpulkan receh demi receh. Dari setiap ikat bayam yang terjual dan setiap butir kembalian yang ia simpan, terkumpullah sebuah angka yang membuat dunia terperangah.
Dunia tersentak saat mengetahui bahwa wanita "miskin" ini telah menyumbangkan:
Rp 3,2 Miliar untuk membangun perpustakaan sekolah
.
Rp4,5 Miliar untuk membangun rumah sakit dan panti asuhan
Total lebih dari Rp7,7 Miliar telah ia gelontorkan untuk kemanusiaanUang itu bukan berasal dari sisa kekayaannya, melainkan dari seluruh hidupnya.
Bukankah ini Kekayaan Tanpa Batas bro.
Apa makna hidup yang bisa kita petik dari wanita luar biasa ini ?
Kita sering kali terjebak pada definisi bahwa kaya berarti memiliki tumpukan aset, deretan mobil mewah, atau saldo bank yang digitnya tak habis dibaca. Namun, Chen Shu-chu merombak logika itu dengan sangat elegan. Ia mengajarkan kita bahwa:
"Kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita genggam, tapi seberapa banyak yang mampu kita lepaskan untuk orang lain."
Secara angka, mungkin ia berada di urutan sekian dalam daftar Forbes. Tapi secara hakikat, ia adalah orang terkaya nomor satu di dunia. Kekayaannya bersifat unlimited (tak terbatas) karena ia tidak menyimpan uangnya di brankas besi, melainkan di dalam hati orang-orang yang ia bantu.
Ia adalah bukti bahwa seseorang bisa menjadi sangat kaya meski hidup dalam kesederhanaan, asalkan ia memiliki kekayaan batin. Ia menggenggam dunia bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan ketulusan yang murni.
Renungan apa Untuk Kita, terkait Kisah Chen Shu-chu adalah tamparan lembut bagi kita yang sering merasa "kurang". Kita sibuk mengejar gengsi sampai lupa berbagi. Kita sibuk mempercantik bungkus, sementara Chen sibuk memperindah isi jiwa.
Di pasar yang becek itu, Chen Shu-chu tidak hanya menjual sayur. Ia sedang membagikan harapan. Ia membuktikan bahwa untuk menjadi pahlawan, Anda tidak perlu jubah Anda hanya perlu hati yang lapang.
Sebuah kisah inspiratif, dengan kelangkaan kejadian sejuta belum ada satu.itulah sebabnya majalah Forbes dan Time menobatkan nya sebagai manusia terkaya.
Mungkin ada banyak orang diluar sana yang malah memberikan Rezeki nya puluhan kali lipat dari wanita ini namun tidak banyak kejadian yang memberikan rezekinya kepada kemanusiaan dari pedangang sayur yang mengumpukan receh demi receh selama 50 tahun
Sumbangan kemanusiaan dari milyader itu sih, BIASA BANGET kalik, Tapi sumbangan kemanusiaan dari pedagang sayur ITU LUAR BIASA BANGET (ASE).
Komentar
Posting Komentar