Langsung ke konten utama

Mundur, Siapa Takut?




DI WA Group kita, dalam beberapa hari ini ikut gonjang ganjing dengan pemberitaan mundur nya beberapa BOS OJK dan BEI, Aku ngga ngikutin sih dg berita ini, cuman sepintas kilas, sambil seruput kopi panas dan pisang goreng ala Samarinda, akhirnya aku coba ngulik berita ini, kek nya seruu juga nih dibuat catatan ringan.

Sejenak berita2 lain minggir dulu, sayang juga kalau berita ini tidak diulas, aku ngga pedul juga siapapun yang mundur tapi "Aku melihat ada pelajaran Moral yang hari ini hilang, justru ketemu dengan mundurnya 4 Orang inspirator moral bangsa, ya kenapa aku mengatakan 4 Pria ini sebagai inspirator kebangkitan moral bangsa Indonesia ?


Yuk ikutin catatan aku ini tapi jangan lupa mainkan dulu kopi panasnya bung..


2 Hari lalu, Dunia keuangan kita baru saja diguncang "gempa" yang tak biasa. Bukan sekadar indeks merah yang menghiasi layar monitor para trader, melainkan sebuah fenomena moral yang jarang terjadi di negeri ini  Pengunduran diri berjamaah para petinggi OJK mulai dari Mahendra Siregar, Inarno Jayadi, hingga Aditya Jayaantara yang kemudian disusul oleh Bos BEI, Iman Rachman, seolah menjadi oase di tengah gersangnya tanggung jawab etis pejabat kita.


​Mereka memilih jalan yang sunyi namun terhormat: Mundur...!! Keren kan bro..

Ke 4 Pria ini paham daj sadar mereka sedang memilih ​Antara Kursi Empuk dan Beban Moral


​Dalam narasi kekuasaan di Indonesia, kursi jabatan seringkali dianggap sebagai "warisan" atau hadiah yang harus dipertahankan sekuat tenaga hingga tetes keringat terakhir. Demi mempertahankan jabatan tsb apapun tabrak sana tabrak sini, hajarrr aja terus, ..Jarang sekali kita melihat pejabat yang dengan sukarela melepaskan fasilitas negara hanya karena merasa kinerjanya tak sebanding dengan harapan publik 

​Anjloknya IHSG dalam beberapa hari terakhir memang sebuah tamparan keras. Namun, respons para petinggi OJK dan BEI ini memberikan warna baru. Mereka seolah berbisik pada kita semua: "Jabatan ini adalah amanah, dan ketika amanah itu goyah, saya adalah orang pertama yang harus bertanggung jawab." coba hebat kan, kata hati pak mahendra, dkk.

​Secara filosofis, ini adalah bentuk tertinggi dari integritas. Mundur bukan berarti kalah, melainkan sebuah pernyataan bahwa martabat diri jauh lebih berharga daripada sekadar jabatan hal ini mengindikasikan kita dari jepang 


​Belajar dari Negeri Sakura: Esensi "Harakiri" Modern


​Kita sering menoleh ke Jepang dengan rasa kagum. Di sana, ada filsafat yang mengakar kuat tentang rasa malu Kita tentu ingat kisah seorang walikota di Jepang yang memilih mundur hanya karena sebuah lubang di jalan mengakibatkan seorang pesepeda terjatuh. Belum meninggal, hanya terjatuh. Namun bagi sang walikota, kegagalan infrastruktur adalah kegagalan moral pribadinya.

​Di Indonesia, situasinya TABOLAK BALEK (lagu yang lagi ngetop )  Berapa banyak BUMN yang megap-megap, bangkrut, atau terlilit utang triliunan rupiah, namun para direksinya tetap melenggang kangkung dengan senyum lebar di depan kamera ? Seolah-olah kegagalan adalah hal yang lumrah dan rasa malu telah dikubur dalam-dalam di bawah karpet merah kantor mereka.

​Kalimat "Emang gue pikirin ?" seakan menjadi mantra sakti untuk menulikan telinga dari kritik rakyat.


Teman2 di WAG yang saya hormati, kalian tau kan ​Momentum Perubahan: Jangan Tunggu Rompi Oranye!!


​Budaya mundur para pejabat OJK dan BEI ini seharusnya menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi para menteri dan petinggi BUMN lainnya. Indonesia butuh standar moral yang baru. Kita butuh pemimpin yang berani berkata, "Saya gagal, dan saya tahu diri."

​Sungguh menyedihkan jika sebuah jabatan dilepaskan bukan karena kesadaran moral, melainkan karena terpaksa setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. 


Ada perbedaan kelas yang sangat jauh antara:

​Mundur dengan kepala tegak karena tanggung jawab kinerja atau 

​Mundur dengan kepala tertunduk sambil memakai rompi oranye.  dan tangan terborgol.


​Ada Sebuah Warisan Moral dari kejadian ini dimana ​Langkah Mahendra Siregar dan kolega adalah sebuah momentum. Ini adalah pelajaran bagi seluruh birokrasi kita bahwa kekuasaan tidak bersifat absolut. Di atas hukum yang tertulis, ada hukum moral yang jauh lebih tajam 

​Mundur karena gagal adalah sebuah tindakan ksatria. Ini adalah cara terbaik untuk menjaga kehormatan lembaga dan memberikan ruang bagi darah baru untuk memperbaiki keadaan. Jadi, jika memang tidak mampu, jangan takut untuk melangkah keluar. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa lama kita duduk di kursi jabatan, tapi bagaimana cara kita meninggalkannya.


​Mundur ? Siapa takut !

Ayo mundur om..mundur tante, mundur mbak..ok.siip taruh aja mobil nya disini..ya.. itulah satu2nya langkah mundur karena perintah, dan kita tunduk dengan perintah itu, kalau mobil mau selamat tidak membentur tembok..


Yuk habiskan kopi nya broo..! (ASE)​

Komentar