Langsung ke konten utama

Ketika Danau Semayang, Danau Jempang, Danau Melintang, Menjadi Masa Lalu


 ________

Catatan malam : ASE

________


Disebuah group WAG aku melihat ada postingan video, ada rencana dari para pengusaha kelas kakap nasional dan daerah Kaltim, akan menggarap sebuah maha karya dengan judul ADA CUAN BARU WAL, di 3 Danau Di Kaltim  itu, Yuk  Kita udar kita keruk, Kita habisi sampai ke akar akarnya, Karena Di danau itu ada harta karun, NGARANNYA PASIR SILIKA, siap-siap wal.. 😀


Video diatas, membuat aku tersadar, ini perlu dipahami khusus oleh pemerintah kabupaten Kutai Kartanegara dan Propinsi Kaltim. Agar ekstra hati2 dalam memberikan perizinan nya.


Kekawalan paham kan,​Alam tidak pernah benar-benar diam. Ia mencatat setiap goresan, menyimpan setiap luka, dan pada saatnya nanti, ia akan menagih janji. Namun sayangnya, manusia seringkali menderita amnesia kolektif. Kita seolah lupa sejarah, menutup mata dari penglihatan, dan menyumbat telinga dari jeritan, berita masa lalu.


​Masih lekat dalam ingatan bagaimana Aceh dan Sumatera luluh lantak. Bukan sekadar air yang datang bertamu, melainkan banjir kayu yang menghantam tanpa ampun. Lebih dari seribu nyawa hilang dalam sekejap, ratusan rumah rata dengan tanah. Tragedi itu dipicu oleh satu hal: ketika otak manusia dipenuhi nafsu cuan


Alam yang tadinya bersahabat, kini berbalik menjadi musuh yang mematikan bagi rakyat kecil, sementara para aktor di baliknya tetap tenang di singgasana mereka.


Ada ​Kalimat Manis, yang sering di kampanye kan dan aku melihat itu sebagai Topeng di Balik Eksploitasi


​Di tengah rencana eksploitasi besar-besaran, kita seringkali disuguhi narasi penenang. Pemerintah kerap memberikan lampu hijau melalui "rambu-rambu" yang terdengar sangat bijak: "Silakan lakukan eksplorasi, asal sesuai aturan, ramah lingkungan, dan taat AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)." 


​Namun, mari kita jujur pada nurani. Apakah rentetan aturan itu benar-benar menjadi kompas bisnis ? Jawabannya adalah: Tidak Ferguzo


​Ketika kalimat manis menjadi penutup topeng eksploitasi, kita seolah sedang dibuai mimpi indah di tengah ancaman badai. Dalam sejarah industri ekstraktif, hampir tidak pernah ada cerita sukses (success story) yang membuktikan bahwa alam setelah dirambah justru menjadi lebih baik atau lebih bersahabat  Realitasnya selalu berbanding terbalik. Begitu alat berat turun dan ekosistem dikoyak, alam tidak akan lagi menjadi teman yang ramah. Ia akan berubah menjadi sosok yang sadis dan kejam sebagai bentuk perlawanan atas luka yang kita goreskan.


Ide eksploitasi di 3 danau ini sejatinya adalah  ​ancaman di Jantung Air Kaltim


​Pertanyaan besar kini menggantung di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Propinsi Kalimantan Timur. Sebagai provinsi yang kaya akan batubara dan migas, Kaltim kini menghadapi babak baru. Tiga danau terbesar kita Danau Semayang, Danau Melintang, dan Danau Jempang telah ditemukan sebagai sumber cuan baru.

​Dengan ketajaman mata elang, para pengusaha melihat potensi 2 miliar kubik pasir silika di sana terbesar di Indonesia. Pasir ini memang bahan baku kaca dan energi masa depan, tapi apakah kita sadar apa yang sedang kita pertaruhkan ?


Kita pada akhirnya pasti akan merenung setelah ada bencana, bagaimana ​Takdir Alam vs Ambisi Manusia


​Danau-danau ini adalah takdir bagi masyarakat setempat. Ia adalah sumber penghidupan nelayan, benteng keanekaragaman hayati, dan pengatur iklim alami  Secara filosofis, apa arti value uang jika dibandingkan dengan value kehidupan ?


​Ketika tangan manusia yang hanya memikirkan "duit" mulai menjamah danau-danau ini, fungsi alaminya dipastikan akan luluh lantak. Kita mungkin akan mendapatkan pundi-pundi rupiah, tapi kita kehilangan kenyamanan lingkungan yang tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.


Oleh sebab itu kita perlu memberikan ​Peringatan Sebelum Terlambat

​Kandungan pasir silika itu memang anugerah Allah SWT bagi Kaltim. Namun, Allah juga mengingatkan kita melalui sejarah: Jangan menjadi Aceh dan Sumatera kedua . Alam memiliki batas kesabaran. Jangan sampai janji-janji manis "ramah lingkungan" hanya menjadi pengantar tidur sebelum kita terbangun dalam bencana yang hebat.


​Ide eksploitasi ini harus ditinjau ulang. Sebab pada akhirnya, ketika alam mengamuk, ia tidak akan bertanya siapa yang memegang izin atau siapa yang menaati AMDAL. Ia hanya akan menjemput apa yang menjadi haknya


Yuk seruput kopi dulu wal, ..!! ( ASE )

Komentar