Selamat Jalan Pejuang Rupiah, Selamat Jalan Pejuang Keluarga: Refleksi dari Lambaian Terakhir sosok Naura
Catatan sedih sore : ASE
Aku coba putar video ini.. putar lagi dan putar lagi..aku sarankan kalian coba aja buka dan putar juga.. ðŸ˜
Tampak nya penyakit ku kumat, ada keinginan utk membuat ini menjadi tulisan dan bisa dimuat dalam memori catatan ku lainnya.
Sempaja jam menunjukan pukul 16.30 sore waktu Samarinda. Jujur aku membuat catatan ini agak gemeteran sebenarnya, entah lah ! Seperti nya aku larut dalam video ini.ada emosi didalam nya.. lebih tepatnya sedih..!! Aku sebenarnya jarang membuat catatan kek gini.. tapi akhirnya aku harus membuat nya sambil seruput teh tarik sore hari.
Dunia seringkali terasa tidak adil dalam membagi waktu. Di saat fajar menyingsing pukul 06.30 pagi, ketika sebagian orang masih bergelut dengan selimut atau menyesap kopi hangat, Naura Rindha Cantika sudah tegak berdiri dengan seragam kebanggaannya. Gadis cantik berusia 21 tahun asal Desa Kawedusan, Ponggok, Blitar ini bukan sedang bersiap menuju kampus atau kafe kekinian, melainkan sedang menjemput takdirnya sebagai pramugari bus Indorent.
Dengan disiplin tinggi, jemari lenturnya membantu penumpang menata koper di bagasi. Senyumnya menyapa hangat, memastikan lansia, ibu hamil, dan anak-anak mendapatkan kenyamanan di atas kursi-kursi bus yang akan membelah Pulau Jawa. Naura bukan sekadar bekerja; ia sedang beribadah dalam rupa pelayanan profesional
Namun jam tangan yang dipakai naura, menunjukan waktu yang kejam, Detik di jam itu Menghentikan Waktu..!!
Dan takdir memiliki rahasia yang tak mampu ditembus logika manusia. Di KM 566 jalur Tol Ngawi, tepatnya di daerah Bangunrejo Kidul keheningan pagi pecah oleh dentuman keras. Duarrr! Benturan fatal antara bus Indorent dan sebuah mobil boks mengubah segalanya dalam sekejap Kendaraan ringsek, nyawa-nyawa melayang, dan di tengah puing-puing logam yang dingin itu, Naura sang pejuang rupiah telah menyelesaikan tugas terakhirnya di dunia.
Kekawalanku ..di GROUP WA ini..! kadang memag, Filosofi hidup seringkali mengajarkan bahwa "kematian adalah puncak dari pengabdian." Kekawalan mungkin ingat ada penggalan lagu EBIT G ADE, " kematian adalah tidur panjang, maka mimpi indah lah engkau Camelia." Bagi Naura, ia pergi justru saat sedang berada di garis depan pengabdiannya kepada keluarga.
Nun di desa yang lain, ada Doa seorang Ibu dan Keheningan malam,
Di sudut desa yang jauh, seorang ibu sempat melepas putrinya dengan doa yang paling tulus: "Hati-hati ya, Nak. Bantu penumpangmu sebaik mungkin. Ibu dan adik-adik hanya bisa berdoa agar kamu selamat."
Selama 18 jam, ponsel Naura masih "bernapas". Ia rajin mengirimkan titik koordinat (share location), seolah ingin berkata pada ibunya, "Bu, Naura di sini, Naura aman." Namun, tiba-tiba dunia menjadi senyap.
Tidak ada lagi pesan singkat yang masuk.
Tidak ada lagi panggilan video yang memperlihatkan wajah cerianya.
Hanya ada dering telepon yang tak terjawab, hingga akhirnya berita di televisi nasional menghancurkan sisa-sisa harapan itu.
Kabar duka itu datang bak petir di siang bolong. Tanpa mendung, tanpa tanda-tanda hujan, sang ibu harus menerima kenyataan bahwa putri kebanggaannya kini telah berada di pembaringan abadi. ðŸ˜ðŸ˜
Pelajaran apa yang dapat dari catatanku ini, yaitu adalah tentang Pilihan dan Pengorbanan
Kisah Naura adalah sebuah tamparan lembut bagi kita semua tentang makna kedewasaan. Di usia 21 tahun:
Saat wanita lain mungkin masih asyik bercanda di kafe, Naura memilih istirahat di kamar sederhananya demi mengumpulkan tenaga untuk esok pagi.
Saat teman sebaya sibuk mengejar gelar mahasiswi, Naura memilih mengejar rezeki demi ibu, ayah, dan adik-adiknya.
Hampir 24 jam waktunya ia wakafkan untuk keluarga.ia adalah pahlawan tanpa jubah yang bertarung di jalur lintas provinsi.
Kini, tidak akan ada lagi suara lembut Naura yang menggema di dalam bus:
"Bapak dan Ibu penumpang, silakan pasang sabuk pengaman Anda..."
"Hati-hati saat mengeluarkan koper, kita sudah sampai di tujuan..."
Semua pengumuman itu kini berganti dengan keheningan panjang. Naura tidak lagi singgah di rest area untuk sejenak melepas lelah, karena ia telah sampai di "rest area" yang sesungguhnya pelukan hangat Sang Pencipta.
Selamat jalan, Naura Rindha Cantika
Selamat jalan Pejuang Rupiah, selamat jalan Pejuang Keluarga. Bagimu, perjalanan ini telah usai, namun jejak kebaikanmu akan terus mengalir di setiap doa yang dipanjatkan keluargamu.
Kamu adalah pahlawan yang sebenarnya. (ASE).
Komentar
Posting Komentar