Foto Masjid Raya Darussalam Samarinda |
Catatan khusus:
DR.AJI SOFYAN EFFENDI, SE,MSI
(Dosen Pasca Sarjana FEB UNMUL & Dewan Pembina ISEI Samarinda)
Wali Kota Samarinda ini memang all-out dalam memberikan perhatian terhadap pembangunan di sektor keagamaan. Beliau senantiasa memperhatikan pembangunan spiritual ini tidak hanya untuk Islam, tetapi atensi beliau terhadap agama-agama lain juga sangat tinggi dan sudah terbukti.
Transformasi di Jantung Kota Tepian
Beberapa hari lalu, menjelang ketukan pintu bulan suci Ramadhan 2026, wajah baru Masjid Raya Darussalam resmi diperkenalkan. Berlokasi di tepi Sungai Mahakam, tepat di jantung denyut nadi ekonomi Kota Samarinda—kawasan Pasar Pagi—bangunan ini kini tampil menawan.
Bagi warga Samarinda, Masjid Darussalam bukan sekadar tumpukan batu bata dan semen; ia adalah memori kolektif yang telah melintasi puluhan tahun sejarah, tumbuh bersama debu dan doa warga Kota Tepian.
Dahulu, masjid ini dikenal dengan kesahajaannya, berdiri rendah hati di tengah riuhnya transaksi dagang. Namun kini, melalui sentuhan renovasi yang menelan dana puluhan miliar rupiah dari APBD Kota Samarinda, Masjid Raya Darussalam bertransformasi menjadi megah tanpa kehilangan jiwanya.
Lebih dari Sekadar Kemegahan Visual
Mengapa pemerintah kota di bawah kepemimpinan Andi Harun rela menggelontorkan investasi sebesar itu untuk sebuah tempat ibadah? Jawabannya terletak pada filosofi mendalam beliau tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
"Apalah arti sebuah kota yang modern jika kering dari sentuhan spiritual? Kota yang beradab adalah kota yang dihuni oleh warga yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai langit ke dalam interaksi sosial di bumi."
— Dr. H. Andi Harun
Pembangunan manusia bukan hanya soal angka harapan hidup atau tingkat pendidikan formal, melainkan soal "isi" dari manusia itu sendiri. Iman adalah jangkar, dan masjid adalah dermaganya.
Visi Besar: Masjid sebagai Pusat Peradaban
Visi Andi Harun sangat jernih: Ia ingin menjadikan Masjid Raya Darussalam sebagai Pusat Peradaban, bukan sekadar tempat ritualitas shalat yang sunyi setelah salam diucapkan. Ada harapan besar yang dititipkan pada tiap sudut bangunan ini:
Pusat Penerang Keimanan: Menjadi wadah peningkatan kualitas spiritual warga agar lebih tangguh menghadapi tantangan zaman.
Laboratorium Sosial: Tempat di mana kepedulian antar sesama dipupuk, melampaui sekat-sekat status sosial.
Mesin Pengentas Kemiskinan: Melalui pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang progresif, masjid diharapkan hadir sebagai solusi nyata bagi warga kurang mampu di sekitarnya.
Menatap Wajah Samarinda dari Masjid Darussalam
Ada sebuah sentuhan filosofis yang menarik dari letak masjid yang berdampingan dengan Pasar Pagi. Ini seolah mengingatkan kita bahwa dunia dan akhirat tidak boleh dipisahkan. Di satu sisi ada hiruk-pikuk mencari nafkah, di sisi lain ada ketenangan untuk bersujud.
Di Masjid Raya Darussalam inilah, ke depannya wajah asli Kota Samarinda dibentuk. Sebuah wajah kota yang cerdas secara intelektual, namun lembut secara emosional dan kokoh secara spiritual.
Selamat menyambut Ramadhan 2026. Mari kita penuhi saf-safnya, bukan hanya untuk bersujud, tapi untuk merajut kembali peradaban kita dari jantung kota.
Terima kasih saya ucapkan sebagai warga Kota Samarinda kepada Wali Kota Andi Harun yang sudah memberi ruang kepada kami untuk merajut keimanan dan sosial kemasyarakatan melalui Masjid Raya Darussalam ini.
Komentar
Posting Komentar