Catatan Sore : ASE
________
Aku tidak tau dari 9000 Proposal yang masuk di BIMA, apakah dari FEB atau fakultas lain di UNMUL Jebol sampai di penilaian akhir pusat jakarta, markas komando BIMA.
Kemaren aku diskusi dengan pak Erwin di Kantin CBF, win awak rancak kah lolos riset BIMA ? aku tanya erwin dalam bahasa kutai, dijawab masuk terus pak adji, tapi sampai di tingkat nasional kada lolos pak ay, sambil ketawa . 😂
Apa keterkaitan riset BIMA yang super hebat itu itu dengan keberhasilan desa ponggok.
Sangat erat, diskusi dg pak erwin ttg lolos dan tidak nya proposal BIMA bagi aku pribadi menjadi sangat penting dan strategis itu bukan diskusi biasa, itu diskusi intelektual tingkat advance, sampai saat ini aku juga ngga tau, bagaimana cara agar proposal jebol di riset BIMA ? Dari diskusi unfaedah dg buhan yg biasa nongkrong di CBF, ada selentingan tema proposal harus Go Internasional, issue harus makro global, seperi perang israel-hamas, perang Rusia-Ukraina, Penutupan selat hormuz, dll..dll pokoknya " Haratlah " yg penting memberikan kesan kelas riset pemenang NOBEL 😀
Lalu apa hubungannya antara Periset BIMA dengan DESA PONGGOK ?
Mari kita ulas dg studi kasus ke Dititik sudut Klaten, Jawa Tengah, ada sebuah desa bernama Ponggok. Dulu, ia hanyalah noktah kecil yang sunyi. Ia tidak punya "darah hitam" (minyak bumi) tidak punya "emas hijau" (sawit) bahkan tanahnya pun enggan menumbuhkan padi yang rimbun. Ponggok adalah potret desa yang lelah bergelut dengan kemiskinan.
Namun hari ini, jika buhan pian berkunjung ke sana, pian akan melihat sebuah "keajaiban" yang lahir bukan dari tongkat sihir, melainkan dari kepala seorang pria bernama Junaidi Mulyono Sang Kepala Desa Ponggok.
Awal membangun desa ponggok ini, Sejak awal dilantik beliau memangil para Akademisi dan mahasiswa, agar bisa membantu beliau membuat riset agar desa ini maju, (aku jadi ingat periset BIMA) bukan artis apalagi influencer yang hari ini naik daun, utk membangun citra negatif menjadi positif
Di desa ponggok ini akademisi Menemukan "Tanah"nya, menemukan ladang praktek teori nya.
Seringkali, di negeri ini, kebijakan dibangun di atas panggung sandiwara. Kita terbiasa melihat perubahan yang hanya dipoles oleh kamera influencer atau keriuhan artis agar terlihat indah di permukaan, meski keropos di dalam.
Junaidi mengambil jalan yang berbeda. Ia tidak butuh tepuk tangan selebritas. Ia justru mengetuk pintu-pintu kampus, mengundang para mahasiswa dan akademisi untuk datang. Ia seolah berkata, "Tolong, beri saya ilmu, bukan hanya sanjungan."
Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi pada akal sehat. Ketika teori di ruang kelas bertemu dengan ketulusan keringat warga desa, ledakannya menjadi dahsyat. Desa yang tadinya hanya mampu menghasilkan 80 juta rupiah setahun, kini "meledak" hingga menyumbang 14 Miliar Rupiah per tahun bagi PAD-nya. Keberhasilan Ponggok adalah kemenangan imajinasi atas keterbatasan.
Junaidi dan akademisi non riset BIMA, tidak melihat sekadar kolam air. Ia melihat sebuah galeri. Ia menceburkan motor hingga mobil ke dasar air yang bening kristal, menciptakan estetika yang melampaui logika orang awam.
Ia mengubah sesuatu yang biasa (air) menjadi sesuatu yang luar biasa (wisata bawah air yang estetik).
Pesannya jelas: Sesuatu yang bening akan tetap terlihat biasa jika tidak diberi "nyawa" oleh kreativitas Tak berhenti di situ, semangat ini menular ke selokan-selokan desa. Saluran air yang dulunya sarang sampah disulap menjadi kolam-kolam ikan yang menghidupi dapur warga. Wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tapi untuk merasakan keramahan dan lezatnya kuliner desa. Tak Harus Menambang Bumi
Ponggok mengajarkan kita sebuah filosofi penting: Kekayaan tidak selalu harus digali dari perut bumi, tapi bisa diperas dari dalam pikiran. Desa ini membuktikan bahwa:
Kejujuran Ilmu jauh lebih abadi daripada Polesan Konten, apakah ada periset BIMA yang hebat isekelas Junaidi Mulyono yang tidak memiliki titel apapun yang telah membuktikan bahwa riset harus di aplikasi kan.
Selain itu ternyata Kepemimpinan adalah soal memberi arah, bukan mencari panggung. Kerja Bareng adalah teknologi tercanggih untuk mengentaskan kemiskinan.
Kini, Ponggok bukan lagi desa yang meminta belas kasihan. Ia telah bersolek menjadi "gadis cantik" yang dikagumi dunia. Ia menjadi bukti hidup bahwa dengan sedikit imajinasi dan penghormatan pada ilmu pengetahuan, sebuah desa kering pun bisa menjadi telaga kemakmuran bagi warganya.
Aku jadi menghayal bahwa ada hasil riset BIMA yang bisa di aplikasikan seperti desa ponggok ini, kalau ternyata tidak bisa, dan tidak ada, maka milyaran rupiah yang disiapkan utk Periset BIMA hanya menjadi riset diatas meja yang akan usang dimakan rayap, allhamdulillah aku sadar aku tidak mampu menembus ide riset GO GLOBAL makanya ngga ngusulin proposal bukan sekedar sulit secara administratif tapi lebih dari itu, sulit mempertanggung jawabkan moral dan integritas sebagai dosen dan ilmuwan FEB UNMUL (ASE)
Komentar
Posting Komentar